Sunday, June 01, 2008
Lagi Tentang Rokok
Mitos Merokok Ingin Tampil Gagah, Perkasa Dan Disukai Wanita


Melihat realitas di lapangan, banyak yang telah kecanduan merokok atau perokok aktif berawal dari keinginan menunjukkan kesempurnaan identitas. Ingin merasa gagah, tampil machoistik, perkasa, benar lelaki, atletis, berjiwa petualang, memiliki mental yang suka tantangan, dan disukai para wanita. Padahal, semua itu hanya mitos yang coba dilekatkan pada label bungkus rokok.
Banyak orang salah menginterpretasikan simbol-simbol iklan yang ada. Sehingga yang terjadi adalah sebuah realitas semu yang menemani langkah dan tingkah mereka. Bagi aktivis, merokok bukan hanya memuaskan kebutuhan oral, namun juga kebutuhan sosial. Merokok bagi mereka merupakan suatu proses habitual yang proses kenikmatannya didapatkan secara instan dan terekam dalam alam bawah sadar.
Alasan pembelaan selama ini terlontar dari celah bibir banyak orang seperti ini : berdalih, kalau tidak merokok ide, semangat tidak bisa keluar.
Dalam sebuah survey Yayasan Cinta Jantung menyebutkan sebanyak 20 reposnden yang terdiri dari dari 20 organisasi pemuda dan mahasiswa ternyata 9 dari 10 responden per 1 organisasi adalah perokok aktif. Alasan mereka menjadi perokok aktif karena lingkungan organisasi dan nilai kedirian yang hadir dan dilihat rekan - rekan mereka setelah merokok.
Menjadi perokok aktif menurut Flay, diawali dengan fase persiapan ; yaitu sebelum mencoba merokok, adanya keterlibatan perkembangan perilaku dan intensi tentang rokokdan bayangan tentang seperti apa rokok itu. Matang di fase tersebut, rekasi tubuh seseorang yang mencoba merokok pertama kali adalah batuk, sayangnya hal ini sebagian besar diabaikan dan semakin mendorong perilaku adaptasi terhadap rokok, yang ini disebut fase inisiasi.

Selanjutnya, menjadi perokok ; dengan melibatkan proses concept formation, seseorang belajar kapan dan bagaimana merokok dan memasukkan aturan-aturan perokok dalam konsep dirinya. Fase akhir menjadi perokok terjadi saat faktor psikologi dan mekanisme biologis bergabung yang semakin mendorong perilaku merokok.
Tak hanya aktivis, nikotin pun diterima perokok aktif pada reseptor asetilkotin-nikotinik. Jalur reseptor ini terbagi menjadi dua, yaitu jalur imbalan dan adrenergenik.
Pada jalur pertama ini, perokok merasakan nikmat, memacu sistem dopaminergik. Hasilnya perokok akan merasa lebih tenang, daya pikir serasa lebih cemerlang, dan mampu menekan rasa lapar.
Dijalur adrenergik, nikotin akan mengaktifkan sistem adrenergik pada bagian otak lokus seruleus yang mengeluarkan sorotin.
Meningkatnya sorotin menimbulkan rangsangan rasa senang sekaligus keinginan mencari rokok lagi. Hal inilah yang menyebabkan perokok sangat sulit meninggalkannya, karena telah ketergantungan pada nikotin. Dicanangkannya 31 Mei sebagai hari tanpa asap rokok oleh organisasi kesehatan dunia ( WHO ) sejatinya mampu mengurangi intensitas perokok dan membendung paradigma mitos merokok. Tak sekedar menymbolkankata menjadi hiasan mulut dan manis retorika. Dengan mitos rokok dan nilai yang menempel padanya hanya mencipta alasan utopis guna melegalkan ketimpangan yang melibatkan individu sebagai antek kapitalis. Proletarian, aktifis perokok, dikibuli oleh borjuiasi perusahaan rokok.
Dan penanganannya akan sangat sulit apabila hanya didasarkan pada terapi desensitisasi, mengurangi sedikit demi sedikit. Terapi yang baik adalah dengan memasuki alam bawah sadar pribadi sendiri, dengan kata lain melenyapkan terlebih dahulu mitos rokok yang ada.

Semoga info ini menjadi motivasi bagi rekan-rekan yang baca blog saya, trims. Kritik dan saran sangan saya butuhkan untuk lebih mengembangkan blogger ini.
 
posted by sabham at 9:36 PM | Permalink | 0 comments